Mazhab Hanafi
Pendiri mazhab ini adalah Imam Abu Hanifah. Namanya adalah Nu’man bin
Tsabit bin Zauthi dari penduduk Kabil yang lahir tahun 80 H dan wafat
tahun 150 H. Lihatlah buku al-Imam ash-Shadiq wal Mazhahibul Arba’ah
karya Syaikh Asad Haidar. Di dalamnya akan mendapatkan biografi Abu
Hanifah pada halaman 287-346. Dia pernah belajar dan berguru pada salah
seorang tokoh imam Syiah yang terpiawai di zamannya dan juga cucu/putra
keturunan (Ahlulbait) Nabi Muhammad saw yaitu Imam Ja’far ash-Shadiq as.
Abu Hanifah pernah berkata, “Kalau bukan karena dua tahun (berguru pada Imam Ja’far ash-Shadiq as) maka niscaya binasalah Nu’man.” Nu’man adalah nama asli dari Abu Hanifah
Dia juga pernah berkata: “Aku tidak dapati orang yang lebih faqih
dari Ja’far bin Muhammad”. (Lihat kitabnya (Ahlussunnah): al-Musuan,
al-Makharij dan Fiqh Akbar)
Mazhab Maliki
Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, dilahirkan di Madinah
tahun 93 H. beliau berasal dari Kabilah Yamaniah. Sejak kecil beliau
rajin menghadiri majlis-majlis ilmu, beliau sejak kecil telah menghapal
Al-Qur’an. Beliau belajar dari para sahabat dan tabi’in, hingga ia
tumbuh menjadi ulama terkemuka terutama di bidang fiqih. Malik adalah
orang yang paling mengerti di bidang hadis di Madinah saat itu. Paling
mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar bin Khattab, Abdullah bin
Umar, Aisyah. Atas dasar itulah ia memberikan fatwa. Dia sangat
berhati-hati dalam berfatwa. Terlebih dahulu, dia pasti mengadakan cross
check pada ulama-ulama sezamannya yang berjumlah 70 ulama dalam
memutuskan fatwa. Dia wafat pada usia 86 tahun. (Lihat Kitab Fiqih Lima
Mazhab, bab Malik bin Anas).
Imam Malik pernah berkata: “Tidak ada mata yang dapat melihat dan
tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan
adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far
ash-Shadiq.” (Lihat kitabnya Maliki (Ahlussunnah): al-Muwaththa)
Mazhab Syafi’i
Imam Syafi’i adalah Imam pendiri mazhab Syafi’i. Namanya Muhammad bin
Idris asy-Syafi’i. Beliau dilahirkan di Gazzah (Palestina sekarang)
tahun 150 H. Belajar pada ulama-ulama hadis di Mekkah. Usia 20 tahun dia
meninggalkan Mekkah untuk belajar ilmu Fiqih dari Imam Malik, kemudian
dia berangkat ke Iraq dan belajar pada murid-murid Abu Hanifah. Setelah
wafat Imam Malik tahun 179 H beliau pergi ke Yaman untuk mengajar di
sana, diangkat oleh Harun ar-Rasid sebagai guru di Baghdad, setelah itu
beliau dikenal secara lebih luas. Tahun 198 H, beliau berangkat ke Mesir
dan mengajar di masjid Amr bin Ash dan dia wafat di sana. (Silahkan
lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Syafi’i).
Imam Syafi’i pernah berkata: “Hai Ahlulbait Rasulullah, mencintai
kalian adalah fardu dari Allah, tersebut dalam Al-Qur’an yang telah
diturunkan. Cukuplah merupakan keagungan karunia bagi kalian, bahwa
orang yang tidak berselawat atas kalian, tidaklah akan diterima
shalatnya.”
Sebagaimana pujiannya terhadap Ahlulbait as yang termasuk dalam bait berikut ini:
“Tatkala aku melihat manusia binasa dengan mazhabnya dalam lautan
kedurhakaan dan kejahilan, maka atas nama Allah, aku menumpang bahtera
keselamatan, yakni Ahlulbait al-Musthafa, Pengulu para Rasul. Dan aku
pegang erat tali Allah, yaitu mencintai mereka, sebagaimana telah
diperintahkan berpegang pada tali itu.”
Dan ucapannya yang termasyhur yakni. “Jika Rafidhi itu adalah
mencintai keluarga Nabi Muhammad saw, maka saksikanlah wahai jin dan
manusia bahwa aku ini adalah Rafidhi.” (Lihat kitabnya Imam Syafi’i
(Ahlussunnah): al-Umm, Amali Kubra, Risalah dan Ushul al-Fiqh)
Mazhab Hambali
Imam Ahmad bin Hambal, dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin
Hilal asy-Syaibani. Dilahirkan di Baghdad tahun 164 H. sejak kecil dia
menuntut ilmu di mana Baghdad saat itu sebagai pusat ilmu. Beliau mulai
belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, sejarah, dan seterusnya. Belajar
pada Imam Syafi’i di kota Basrah. Beliau mempunyai kitab hadis yang
dinamakan Musnad. Wafat di Baghdad tahun 241 pada usia 77 tahun.
(Silahkan lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Ahmad).
Imam Hanbal pernah berkata: “Tidak seorang dari para sahabat yang
memiliki keutamaan dengan sanad yang shahih seperti Ali bin Abi Thalib”
(Lihat kitabnya Imam Hanbal (Ahlussunnah): Musnad Ahmad bin Hanbal)
Dikutip dari kitab “Fiqih Lima Mazhab: Ja’fari, Hanafi, Maliki,
Syafi’i dan Hambali”, Edisi Lengkap, oleh Muhammad Jawad Mughniyah,
Penerbit Lentera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar